Pendanaan di P2P Lending, Untung atau Buntung?

By | Februari 9, 2024





Usaha Modal Kecil

Sebanyak lebih dari 80% dari 6.200 perusahaan fintech P2P Lending di Cina, menurut Caixing Global telah ditutup atau mengalami kesulitan pengelolaan yang sangat serius. Mulai dari masalah pelarian dana hingga persoalan portfolio yang buruk dan terjadinya rapor merah terkait kredit macet yang tinggi. Setidaknya, ada 165 perusahaan fintech P2P Lending per Juli tahun 2018 mengalami kesulitan memenuhi permintaan penarikan tunai karena sang pemilik yang melarikan diri dana lender.

Bermunculannya jumlah korban yang semakin banyak mendorong petinggi Cina ambil sikap tegas untuk mengeluarkan aturan ketat. Meski tidak sedikit yang menilai aksi tersebut agak terlambat, tetapi diperkirakan mampu membuat jumlah perusahaan P2P Lending di negeri Tirai Bambu terpangkas hingga 70% sepanjang 2019. Bahkan, analisis China International Capital Corp mengumumkan bahwa jumlah perusahaan P2P Lending akan berkurang menjadi hanya 200 perusahaan saja dalam kurun waktu tiga tahun mendatang. Tidak hanya itu saja, lembaga riset Wangdaizhijia memperkirakan angka penurunan yang lebih besar lagi, yakni sebanyak 300-500 perusahaan penyelenggara hingga akhir 2019.

Lalu bagaimana dengan kondisi P2P Lending di Indonesia? Apakah masyarakat yang menjadi pendana atau lender di P2P Lending patut merasa khawatir seperti yang sudah terjadi di Cina?

Saksikan tayangan selengkapnya dan temukan jawabannya di sini:






Previous articleAkseleran Mendapatkan Sertifikasi ISO 27001:2013
Next article5 Manfaat Kehadiran MRT Jakarta Untuk Indonesia!

Memiliki pengalaman di dunia jurnalis selama hampir 10 tahun di sejumlah media seperti Vibizmedia, Viva.co.id, Inilah.com, dan Indonesia Finance Today adalah rekam jejak Rimba untuk menggeluti Profesi di bidang kehumasan. Sejak tahun 2016 Ia telah menjejakkan kaki di industri Financial Technology (FinTech) dengan menjadi Kepala Humas di beberapa Perusahaan Startup sebelum akhirnya Ia memutuskan untuk bergabung dengan Akseleran. Dunia Ekonomi atau Keuangan sudah tidak asing bagi Rimba karena pada awal karirnya Ia pernah bekerja di beberapa Perusahaan Keuangan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *