Tag Archives: Hitung

Pengertian, Cara Hitung, dan Contoh Kasus

Akseleran_Article_Featured_Image_1366x768_COGS

Dalam menjalankan sebuah bisnis, penting bagi Anda untuk melacak biaya-biaya terkait produksi dan distribusi produk yang Anda perdagangkan. Biaya-biaya ini juga dikenal sebagai COGS. COGS adalah komponen krusial yang harus Anda ketahui untuk menentukan margin laba kotor perusahaan.

Di samping itu, COGS dalam akuntansi juga berperan signifikan, terutama untuk menilai kesehatan finansial bisnis Anda. Apabila Anda ingin mempelajari segala sesuatu tentang COGS, jangan lewatkan penjelasan lengkapnya berikut ini.

COGS Adalah Harga Pokok Penjualan

COGS adalah
sumber foto: Freepik

Kepanjangan COGS adalah cost of goods sold, atau yang dalam bahasa Indonesia berarti harga pokok penjualan (HPP).

Sementara itu, arti COGS adalah segala biaya—langsung maupun tidak langsung—yang ditanggung oleh sebuah perusahaan untuk memproduksi dan mendistribusikan barang dagangan yang dipasarkan selama periode tertentu.[1]

Biaya langsung mencakup biaya untuk memproduksi barang atau harga grosir barang, dan meliputi biaya-biaya untuk:

  • Ongkos kirim
  • Biaya tenaga kerja langsung untuk upah karyawan, seperti tunjangan hari tua

Di sisi lain, biaya-biaya tidak langsung meliputi:

  • Biaya administrasi
  • Bunga
  • Biaya sewa
  • Pajak
  • Biaya pengadaan, pengolahan, pengemasan ulang, dan penanganan barang

Di samping COGS, ada pula COGM atau cost of goods manufactured. COGM merupakan istilah akuntansi manajerial yang umum dijumpai di industri manufaktur untuk merepresentasikan total biaya yang timbul akibat produksi barang jadi selama periode tertentu.

Sekilas terdengar mirip, bedanya COGS dan COGM adalah bahwa COGS merupakan total harga pokok barang yang telah dijual kepada konsumen, sementara COGM menggambarkan total biaya yang dikeluarkan selama proses produksi untuk menghasilkan barang jadi.

Perbedaan lain terletak pada penyertaan inventaris selama proses perhitungannya. Yang termasuk ke dalam COGM antara lain biaya bahan baku, barang dalam proses, dan persediaan barang jadi. Sebaliknya, COGS hanya mempertimbangkan harga pokok barang jadi yang telah terjual dan berada di tangan pelanggan.

Menilik dari segi timing, COGM dikalkulasikan untuk periode tertentu, biasanya dalam kurun bulanan, kuartalan, atau tahunan. Di sisi lain, COGS dihitung untuk satu periode yang sama, namun hanya untuk barang yang telah diperdagangkan selama periode tersebut.

Rumus COGS

COGS adalah
Sumber foto: Freepik

Menghitung COGS adalah bagian tidak terpisahkan dari keberlangsungan sebuah bisnis. Di samping berguna untuk menentukan laba kotor, mengetahui COGS juga diperlukan dalam pelaporan pajak, kontrol harga, dan evaluasi kinerja perusahaan.

Adapun rumus COGS adalah sebagai berikut:

COGS = (Persediaan awal + Harga pokok produksi) – Saldo akhir periode

Cara Menghitung COGS

Dalam menghitung COGS, Anda mula-mula wajib memiliki angka konkret dari elemen-elemen berikut:

  • Persediaan awal: Nilai persediaan pada awal periode atau nilai persediaan yang tersisa dari periode sebelumnya.
  • Harga pokok produksi: Harga dari setiap produk yang dibuat selama periode tersebut, juga termasuk biaya bahan baku dan tenaga kerja.
  • Saldo akhir periode: Nilai persediaan pada akhir periode tersebut.

Anda dapat memperoleh nilai persediaan awal dengan memeriksa laporan inventaris dari akhir periode akuntansi sebelumnya. Cara lainnya yang dapat Anda terapkan yakni dengan melakukan penghitungan fisik terhadap semua item inventaris Anda pada hari pertama periode akuntansi yang baru.

Di akhir periode akuntansi, lakukan penghitungan fisik lagi untuk semua item inventaris Anda. Penghitungan ini memberikan Anda nilai persediaan akhir untuk periode yang sedang berjalan.

Selain kedua cara sederhana di atas, masih ada sejumlah metode lainnya untuk mencari tahu nilai dari inventaris Anda, antara lain:

  • First in First Out (FIFO): Barang pertama yang Anda beli atau produksi adalah barang pertama yang Anda jual.
  • Last in First Out (LIFO): Dengan metode ini, barang terakhir yang Anda beli atau produksi adalah barang pertama yang Anda jual.
  • Average Cost Method (ACM): Metode ini menghitung biaya rata-rata dari semua item dalam inventaris Anda dan menetapkan biaya rata-rata tersebut untuk setiap item yang terjual.

Apapun metode yang Anda pilih, harap ingat bahwa inventaris Anda terdiri dari berbagai produk atau barang, masing-masing dengan nilainya sendiri. Anda perlu mendapatkan representasi yang akurat dari persediaan awal dan akhir.

Untuk itu, pastikan Anda menghitung setiap item satu per satu dan menetapkan biaya unit yang sesuai.

Selanjutnya, gunakan rumus yang sudah tersedia untuk mengetahui COGS dari barang Anda.

Contohnya, katakanlah Anda memiliki data sebagai berikut:

  • Persediaan awal: Rp700.000.000,00
  • Harga pokok produksi: Rp1.500.000.000,00
  • Persediaan akhir: Rp450.000.000,00

Berdasarkan formula, maka COGS Anda adalah:

COGS = (700.000.000 + 1.500.000.000) – 450.000.000 = 1.750.000.000

Angka perolehan terakhir dalam contoh COGS adalah sebesar Rp1.750.000.000,00. Dengan kata lain, perusahaan Anda telah mengeluarkan biaya sebesar Rp1.750.000.000,00 untuk memproduksi atau membeli barang yang terjual selama periode akuntansi berikut.

Contoh Kasus Perhitungan COGS

Pabrik sabun Mentari menjual aneka sabun buatan tangan. Berikut adalah informasi mengenai inventaris dan harga pokok produksi untuk periode akuntansi saat ini:

  • Persediaan awal: Rp15.000.000
  • Harga pokok produksi: Rp75.000.000
  • Persediaan akhir: Rp18.000.000
  • Jumlah sabun terjual: 3.000 batang

Pertama-tama, hitung terlebih dahulu COGS berdasarkan rumus yang sudah tersedia:

COGS = (15.000.000 + 75.000.000) – 18.000.000 = 72.000.000

Selanjutnya, untuk mengetahui besaran laba kotor pabrik tersebut pada periode yang sedang berlangsung, gunakan rumus berikut:

Laba Kotor = Penjualan Bersih – COGS

Karena kita perlu menghitung laba kotor yang Pabrik Mentari peroleh per sabun terjual, mari kita asumsikan harga jual satu batang sabun adalah Rp25.000,00, sehingga:

Total Penjualan Bersih = Jumlah sabun terjual x Harga jual per sabun = 3.000 x 25.000 = 75.000.000

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka dapat kita ketahui jika:

Laba Kotor = Penjualan Bersih – COGS = 75.000.000 – 72.000.000 = 3.000.000

Margin Laba Kotor = (Laba Kotor / Total Penjualan Bersih) x 100 = (3.000.000 / 75.000.000) x 100 = 4%

Dalam contoh ini, Pabrik Mentari memperoleh laba kotor sebesar Rp3.000.000,00, yang berarti pendapatan yang mereka peroleh dari penjualan lebih besar jumlahnya daripada biaya produksi. Margin laba kotornya adalah 4%, yang mana untuk setiap sabun terjual, pabrik tersebut memperoleh laba setara dengan 4% dari harga jual.

Namun, perhatikan bahwa ini hanyalah contoh fiktif. Dengan kata lain, dalam skenario bisnis sebenarnya, Anda mungkin perlu mempertimbangkan berbagai biaya dan faktor lain untuk mendapatkan analisis keuangan yang lebih akurat.

Kesimpulan

Singkat kata, mengetahui biaya COGS adalah salah satu langkah yang mesti Anda tempuh jika Anda ingin membuat keputusan bisnis yang efektif, berinformasi, dan mendorong kesuksesan bisnis Anda.

Walaupun COGS adalah bagian krusial, tidak jarang beberapa pelaku usaha pemula mengalami kesulitan dalam menentukan nilainya. Jika demikian, Anda tidak perlu khawatir. Anda dapat menyerahkan urusan tersebut pada akuntan atau financial advisor terpercaya dan fokus pada aspek mendesak lainnya dari bisnis Anda.

Dukung Pertumbuhan UMKM dan Bangkitkan Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan di Akseleran!

Akseleran memberikan kesempatan untuk kamu yang ingin membantu mengembangkan bisnis kecil dan menengah di Indonesia. Dapatkan keuntungan dari suku bunga rata-rata hingga 10,5% per tahun dan serta perlindungan proteksi asuransi 99% terhadap pinjaman. Gunakan kode promo BLOG50 saat mendaftar dan mulailah pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Selain itu, kamu juga bisa melihat info Akseleran sebagai grup usaha di halaman Grup Akseleran.

New-BLOG50-banner

Untuk pertanyaan lebih lanjut dapat menghubungi Customer Service Akseleran di (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]

Ingin Punya Rumah? Hitung Dulu Menggunakan Simulasi KPR

Simulasi KPR

Simulasi KPR – Semakin berkembang zaman semakin sulit pula mencari tempat tinggal yang cocok dan sesuai dengan kita, baik itu dari segi lokasi, akses hingga tentunya adalah harga dari tempat tinggal impianmu. Hal tersebutlah yang kadang membuat sebagian orang akhirnya menunda untuk membeli sebuah tempat tinggal dan terus menunda sampai akhirnya ia tidak memiliki dana untuk membelinya. 

Padahal dana yang diperlukan untuk membeli sebuah tempat tinggal ini memang tidak sedikit. Karena itu penting untuk mengantisipasi serta mengelola keuangan dengan lebih baik agar dapat mulai menabung dan menabung untuk membeli sebuah rumah impian. Salah satunya dengan mulai mempersiapkan perhitungannya.

Simulasi KPR (Kredit Pemilikan Rumah)

Perlu diingat bahwa memiliki sebuah rumah juga adalah salah satu bentuk investasi yang cukup ideal di era sekarang. Karena memang properti menjadi salah satu kebutuhan yang cukup penting di dalam kehidupan semua orang. 

karenanya penting untuk melakukan perhitungan mulai dari harga, cicilan per bulan hingga bunganya. Dengan penggunaan simulasi KPR perhitungan yang kamu lakukan akan dapat lebih mudah terlihat, sehingga kamu dapat memutuskan langkah yang lebih baik. Namun, seperti apa sih simulasi KPR yang sesuai? Simak selengkapnya di bawah ini:

Harga Rumah : Rp. 500.000.000

Tenor : 10 Tahun

Bunga Pinjaman : 14,6%/ tahun atau 1.22% / bulan

Uang Muka (DP) : 20%

Biaya Provisi : 1.5% dari Plafon

Biaya Appraisal : Rp. 500.000

Biaya Administrasi : Rp. 450.000

Biaya Notaris : Rp. 12.000.000

Biaya Asuransi : Rp. 7.500.000

NJOPTKP/NPTKP* : Rp. 60.000.000

*Nilai yang tidak kena pajak; tiap daerah berbeda dan berubah sejalan waktu; contoh untuk DKI Rp60 juta, Bekasi & Tangerang Rp30 juta, Depok Rp20 juta

KPR Anda
Plafon Pinjaman

(Harga Rumah – Uang Muka)

:Rp 400.000.000,00
Angsuran per Periode:Rp 6.355.768,43
Total Periode:120 bulan
Biaya & Pajak
Biaya Provisi

(1.5 % plafon)

:Rp 6.000.000,00
Biaya Appraisal:Rp 500.000,00
Biaya Administrasi:Rp 450.000,00
Biaya Notaris:Rp 12.000.000,00
Biaya Asuransi:Rp 7.500.000,00
Pajak Pembeli / BPHTB

(5% x (Harga Jual – NJOPTKP/NPTKP))

:Rp 22.000.000,00
________________ (+)
Total Biaya & Pajak:Rp 48.450.000,00
Pembayaran Pertama Kali
Uang Muka:Rp 100.000.000,00
Biaya dan Pajak:Rp 48.450.000,00
________________ (+)
Total Pembayaran Pertama:Rp 148.450.000,00

Di atas adalah contoh dari simulasi KPR yang dapat kamu lakukan sebelum membeli rumah impianmu, dengan melakukan simulasi tersebut kamu dapat memperhitungkan nominal uang yang kamu perlukan sehingga kamu dapat mempersiapkannya terlebih dahulu.

Baca juga: 5 Peluang Kerja dari Rumah Tanpa Modal

Untuk mempersiapkan pembayaran pertama untuk rumah impian kamu tersebut diperlukan waktu yang tidak sebentar dan tidak mudah, namun apabila kamu melakukannya dengan penuh persiapan maka semuanya akan terasa lebih mudah.

Ingat! Menabung untuk membeli sebuah rumah memang bukan hal yang mudah, namun apabila dilakukan dengan cara yang optimal maka hasilnya akan terlihat. Yuk mulai dari sekarang persiapkan dana untuk membeli rumah impianmu dan nikmati kenyamanan dari rumah impianmu.

Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang ingin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Akseleran menawarkan kesempatan pengembangan dana yang optimal dengan bunga rata-rata 10,5%-12% per tahun dan menggunakan proteksi asuransi 99% dari pokok pinjaman. Tentunya, semua itu dapat kamu mulai hanya dengan Rp100 ribu saja.

BLOG100

Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk syarat dan ketentuan dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected].