Tag Archives: Kasus

5 Kasus Korupsi Terbesar di Indonesia, Apa Saja?

5 Kasus Korupsi Terbesar di Indonesia, Apa Saja?

Korupsi telah lama menjadi ancaman serius bagi pemerintahan dan kemajuan Indonesia. Kasus-kasus korupsi yang menghebohkan dengan jumlah kerugian negara yang mencapai triliunan rupiah menjadi bukti nyata betapa parahnya masalah ini. Berikut ini adalah lima kasus korupsi terbesar yang merugikan negara dengan angka yang sangat besar,

1. Kasus Penyerobotan Lahan Riau: Rp78 Triliun

Pada Agustus 2022, pemilik PT Duta Palma Group, Surya Darmadi, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penyerobotan lahan seluas 37.095 hektar di wilayah Riau. Ia melakukan tindakan tersebut bersama mantan Bupati Indragiri Hulu (Inhu) periode 1998-2008. Kasus ini menjadi salah satu kasus korupsi terbesar di Indonesia dengan kerugian negara mencapai Rp78 triliun. Surya Darmadi dijatuhi vonis 15 tahun penjara, denda 1 miliar, uang kerugian Rp2,2 triliun, dan kerugian ekonomi Rp39,7 triliun subsider lima tahun penjara.

2. Kasus Kondensat: Rp37,8 Triliun

Pada Juni 2020, mantan Direktur Utama PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), Honggo Wendratno, ditetapkan sebagai tersangka korupsi dalam kasus penunjukan kondensat negara. Dia melakukan tindakan tersebut bersama Mantan Kepala BP Migas, Raden Priyono, dan Deputi Finansial Ekonomi dan Pemasaran BP Migas, Djoko Harsono. Kasus ini menyebabkan kerugian negara sebesar Rp37,8 triliun. Honggo Wendratno divonis 16 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsider enam bulan kurungan.

3. Kasus ASABRI: Rp22,7 Triliun

Pada Januari 2021, Kejaksaan Agung (Kejagung) mengusut korupsi pengelolaan dana investasi di PT Asuransi Angkatan Bersenjata ASABRI Republik Indonesia (Asabri). Kasus ini merugikan negara sebesar Rp22,7 triliun. Dalam kasus ini, Direktur Utama PT Hanson International, Benny Tjokrosaputro, dan Komisaris Utama PT Trada Alam Minera, Heru Hidayat, dijatuhi vonis pidana nihil karena telah dihukum seumur hidup dalam kasus korupsi Jiwasraya. Namun, mereka harus membayar uang pengganti sebesar Rp5,7 triliun dan Rp12,6 triliun.

4. Kasus Jiwasraya : Rp16,87 Triliun

Pada Januari 2020, Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat juga ditetapkan sebagai tersangka korupsi dalam dana investasi PT Asuransi Jiwasraya yang merugikan negara sebesar Rp16,87 triliun. Mereka bekerja sama dengan sejumlah manajer investasi yang mengelola dana Jiwasraya untuk melakukan “penggorengan” harga saham dan mengintervensi keputusan investasi. Dalam kasus ini, Benny dan Heru divonis penjara seumur hidup dan harus membayar uang pengganti masing-masing sebesar Rp6 triliun dan Rp10,7 triliun.

5. Korupsi Proyek BTS 4G: Rp8 Triliun

Pada Mei 2022, Kejaksaan Agung secara resmi menetapkan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate sebagai tersangka dalam kasus korupsi pembangunan Menara BTS 4G dan infrastruktur pendukung BAKTI Kominfo. Korupsi tersebut diperkirakan menimbulkan kerugian negara lebih dari Rp8 triliun. Johnny G. Plate akan dijerat dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah oleh UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda maksimal Rp1 miliar.

Ayo dukung pertumbuhan ekonomi dengan memberikan pendanaan UMKM secara aman di Akseleran! Daftar sekarang dan dapatkan imbal hasil hingga 10,5% per tahun di Akseleran.

Akseleran memberikan saldo awal senilai Rp100 ribu untuk pendaftar baru dengan menggunakan kode CORCOMMBLOG. Melakukan pendanaan di P2P Lending Akseleran juga sangat aman karena lebih dari 98% nilai portofolio pinjamannya memiliki agunan. Sehingga dapat menekan tingkat risiko yang ada. Akseleran juga sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan nomor surat KEP-122/D.05/2019 sehingga proses transaksi yang kamu lakukan jadi lebih aman dan terjamin.

Untuk kamu yang tertarik mengenai pendanaan atau pinjaman langsung bisa juga menghubungi (021) 5091-6006 atau via email [email protected]

Penulis: Ayu Diah Callista | Editor: Rimba Laut

Pengertian, Cara Hitung, dan Contoh Kasus

Akseleran_Article_Featured_Image_1366x768_COGS

Dalam menjalankan sebuah bisnis, penting bagi Anda untuk melacak biaya-biaya terkait produksi dan distribusi produk yang Anda perdagangkan. Biaya-biaya ini juga dikenal sebagai COGS. COGS adalah komponen krusial yang harus Anda ketahui untuk menentukan margin laba kotor perusahaan.

Di samping itu, COGS dalam akuntansi juga berperan signifikan, terutama untuk menilai kesehatan finansial bisnis Anda. Apabila Anda ingin mempelajari segala sesuatu tentang COGS, jangan lewatkan penjelasan lengkapnya berikut ini.

COGS Adalah Harga Pokok Penjualan

COGS adalah
sumber foto: Freepik

Kepanjangan COGS adalah cost of goods sold, atau yang dalam bahasa Indonesia berarti harga pokok penjualan (HPP).

Sementara itu, arti COGS adalah segala biaya—langsung maupun tidak langsung—yang ditanggung oleh sebuah perusahaan untuk memproduksi dan mendistribusikan barang dagangan yang dipasarkan selama periode tertentu.[1]

Biaya langsung mencakup biaya untuk memproduksi barang atau harga grosir barang, dan meliputi biaya-biaya untuk:

  • Ongkos kirim
  • Biaya tenaga kerja langsung untuk upah karyawan, seperti tunjangan hari tua

Di sisi lain, biaya-biaya tidak langsung meliputi:

  • Biaya administrasi
  • Bunga
  • Biaya sewa
  • Pajak
  • Biaya pengadaan, pengolahan, pengemasan ulang, dan penanganan barang

Di samping COGS, ada pula COGM atau cost of goods manufactured. COGM merupakan istilah akuntansi manajerial yang umum dijumpai di industri manufaktur untuk merepresentasikan total biaya yang timbul akibat produksi barang jadi selama periode tertentu.

Sekilas terdengar mirip, bedanya COGS dan COGM adalah bahwa COGS merupakan total harga pokok barang yang telah dijual kepada konsumen, sementara COGM menggambarkan total biaya yang dikeluarkan selama proses produksi untuk menghasilkan barang jadi.

Perbedaan lain terletak pada penyertaan inventaris selama proses perhitungannya. Yang termasuk ke dalam COGM antara lain biaya bahan baku, barang dalam proses, dan persediaan barang jadi. Sebaliknya, COGS hanya mempertimbangkan harga pokok barang jadi yang telah terjual dan berada di tangan pelanggan.

Menilik dari segi timing, COGM dikalkulasikan untuk periode tertentu, biasanya dalam kurun bulanan, kuartalan, atau tahunan. Di sisi lain, COGS dihitung untuk satu periode yang sama, namun hanya untuk barang yang telah diperdagangkan selama periode tersebut.

Rumus COGS

COGS adalah
Sumber foto: Freepik

Menghitung COGS adalah bagian tidak terpisahkan dari keberlangsungan sebuah bisnis. Di samping berguna untuk menentukan laba kotor, mengetahui COGS juga diperlukan dalam pelaporan pajak, kontrol harga, dan evaluasi kinerja perusahaan.

Adapun rumus COGS adalah sebagai berikut:

COGS = (Persediaan awal + Harga pokok produksi) – Saldo akhir periode

Cara Menghitung COGS

Dalam menghitung COGS, Anda mula-mula wajib memiliki angka konkret dari elemen-elemen berikut:

  • Persediaan awal: Nilai persediaan pada awal periode atau nilai persediaan yang tersisa dari periode sebelumnya.
  • Harga pokok produksi: Harga dari setiap produk yang dibuat selama periode tersebut, juga termasuk biaya bahan baku dan tenaga kerja.
  • Saldo akhir periode: Nilai persediaan pada akhir periode tersebut.

Anda dapat memperoleh nilai persediaan awal dengan memeriksa laporan inventaris dari akhir periode akuntansi sebelumnya. Cara lainnya yang dapat Anda terapkan yakni dengan melakukan penghitungan fisik terhadap semua item inventaris Anda pada hari pertama periode akuntansi yang baru.

Di akhir periode akuntansi, lakukan penghitungan fisik lagi untuk semua item inventaris Anda. Penghitungan ini memberikan Anda nilai persediaan akhir untuk periode yang sedang berjalan.

Selain kedua cara sederhana di atas, masih ada sejumlah metode lainnya untuk mencari tahu nilai dari inventaris Anda, antara lain:

  • First in First Out (FIFO): Barang pertama yang Anda beli atau produksi adalah barang pertama yang Anda jual.
  • Last in First Out (LIFO): Dengan metode ini, barang terakhir yang Anda beli atau produksi adalah barang pertama yang Anda jual.
  • Average Cost Method (ACM): Metode ini menghitung biaya rata-rata dari semua item dalam inventaris Anda dan menetapkan biaya rata-rata tersebut untuk setiap item yang terjual.

Apapun metode yang Anda pilih, harap ingat bahwa inventaris Anda terdiri dari berbagai produk atau barang, masing-masing dengan nilainya sendiri. Anda perlu mendapatkan representasi yang akurat dari persediaan awal dan akhir.

Untuk itu, pastikan Anda menghitung setiap item satu per satu dan menetapkan biaya unit yang sesuai.

Selanjutnya, gunakan rumus yang sudah tersedia untuk mengetahui COGS dari barang Anda.

Contohnya, katakanlah Anda memiliki data sebagai berikut:

  • Persediaan awal: Rp700.000.000,00
  • Harga pokok produksi: Rp1.500.000.000,00
  • Persediaan akhir: Rp450.000.000,00

Berdasarkan formula, maka COGS Anda adalah:

COGS = (700.000.000 + 1.500.000.000) – 450.000.000 = 1.750.000.000

Angka perolehan terakhir dalam contoh COGS adalah sebesar Rp1.750.000.000,00. Dengan kata lain, perusahaan Anda telah mengeluarkan biaya sebesar Rp1.750.000.000,00 untuk memproduksi atau membeli barang yang terjual selama periode akuntansi berikut.

Contoh Kasus Perhitungan COGS

Pabrik sabun Mentari menjual aneka sabun buatan tangan. Berikut adalah informasi mengenai inventaris dan harga pokok produksi untuk periode akuntansi saat ini:

  • Persediaan awal: Rp15.000.000
  • Harga pokok produksi: Rp75.000.000
  • Persediaan akhir: Rp18.000.000
  • Jumlah sabun terjual: 3.000 batang

Pertama-tama, hitung terlebih dahulu COGS berdasarkan rumus yang sudah tersedia:

COGS = (15.000.000 + 75.000.000) – 18.000.000 = 72.000.000

Selanjutnya, untuk mengetahui besaran laba kotor pabrik tersebut pada periode yang sedang berlangsung, gunakan rumus berikut:

Laba Kotor = Penjualan Bersih – COGS

Karena kita perlu menghitung laba kotor yang Pabrik Mentari peroleh per sabun terjual, mari kita asumsikan harga jual satu batang sabun adalah Rp25.000,00, sehingga:

Total Penjualan Bersih = Jumlah sabun terjual x Harga jual per sabun = 3.000 x 25.000 = 75.000.000

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka dapat kita ketahui jika:

Laba Kotor = Penjualan Bersih – COGS = 75.000.000 – 72.000.000 = 3.000.000

Margin Laba Kotor = (Laba Kotor / Total Penjualan Bersih) x 100 = (3.000.000 / 75.000.000) x 100 = 4%

Dalam contoh ini, Pabrik Mentari memperoleh laba kotor sebesar Rp3.000.000,00, yang berarti pendapatan yang mereka peroleh dari penjualan lebih besar jumlahnya daripada biaya produksi. Margin laba kotornya adalah 4%, yang mana untuk setiap sabun terjual, pabrik tersebut memperoleh laba setara dengan 4% dari harga jual.

Namun, perhatikan bahwa ini hanyalah contoh fiktif. Dengan kata lain, dalam skenario bisnis sebenarnya, Anda mungkin perlu mempertimbangkan berbagai biaya dan faktor lain untuk mendapatkan analisis keuangan yang lebih akurat.

Kesimpulan

Singkat kata, mengetahui biaya COGS adalah salah satu langkah yang mesti Anda tempuh jika Anda ingin membuat keputusan bisnis yang efektif, berinformasi, dan mendorong kesuksesan bisnis Anda.

Walaupun COGS adalah bagian krusial, tidak jarang beberapa pelaku usaha pemula mengalami kesulitan dalam menentukan nilainya. Jika demikian, Anda tidak perlu khawatir. Anda dapat menyerahkan urusan tersebut pada akuntan atau financial advisor terpercaya dan fokus pada aspek mendesak lainnya dari bisnis Anda.

Dukung Pertumbuhan UMKM dan Bangkitkan Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan di Akseleran!

Akseleran memberikan kesempatan untuk kamu yang ingin membantu mengembangkan bisnis kecil dan menengah di Indonesia. Dapatkan keuntungan dari suku bunga rata-rata hingga 10,5% per tahun dan serta perlindungan proteksi asuransi 99% terhadap pinjaman. Gunakan kode promo BLOG50 saat mendaftar dan mulailah pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Selain itu, kamu juga bisa melihat info Akseleran sebagai grup usaha di halaman Grup Akseleran.

New-BLOG50-banner

Untuk pertanyaan lebih lanjut dapat menghubungi Customer Service Akseleran di (021) 5091-6006 atau email ke [email protected]