Tag Archives: Penyusutan

Mengidentifikasi Kaitan Amortisasi dengan Penyusutan Nilai Aset

Contoh Amortisasi

Amortisasi merupakan sebuah prosedur akuntansi yang dapat mengurangi nilai biaya dan aset (aktiva yang tak berwujud) secara bertahap dengan umur ekonomis yang terbatas melalui pembebanan secara berkala ke pendapatan. Amortisasi juga dapat diartikan sebagai suatu penurunan nilai penyusutan dari sebuah asset yang memiliki umur ekonomis yang lebih lama.

Mulanya amortisasi dalam akuntansi memiliki arti sebagai pengalokasian biaya aktiva yang tak berwujud yang mengacu pada pengurangan kewajiban dengan pembayaran pokok serta bunga dengan teratur dalam jumlah tertentu sampai pinjaman terbayar ketika tanggal jatuh tempo. 

Seperti yang sudah dibahas sedikit di atas amortisasi adalah suatu penurunan atau pengurangan nilai aktiva tidak berwujud pada setiap periode akuntansi.

Contoh Amortisasi

Perusahaan seringkali melakukan penghapusan untuk beberapa aset yang tidak berwujud agar dapat melalui amortisasi seperti goodwill. Sering juga dilakukan amortisasi terhadap setiap nilai yang dibayar atas pembelian preferen atau obligasi. Sedangkan pada amortization fund atau dana amortisasi ini dapat dikumpulkan secara berkala untuk membayar beban amortisasi tersebut. 

Contoh amortisasi seperti perusahaan yang memiliki pinjaman senilai Rp 10.000.000 dan setiap tahun diangsur sebesar Rp. 200.000 setia tahunnya, maka perusahaan tersebut telah melakukan amortisasi pinjaman sebesar Rp. 200.000 setiap tahunnya.

Contoh lainnya dimana sebuah perusahaan industri yang memiliki hak paten atas mesin dengan harga selama 10 tahun. Apabila industri tersebut menghabiskan dana senilai Rp 50.000.000 dalam pengembangan produknya, maka akan diakui serta dicatat senilai Rp 5.000.000 per tahun selama 10 tahun sebagai biaya amortisasinya.

Contoh amortisasi di atas adalah salah satu contoh melakukan amortisasi saat memiliki sebuah perusahaan maupun bisnis. 

Mengidentifikasi Kaitan Amortisasi dengan Penyusutan Nilai Aset

Seperti yang kalian ketahui bahwa amortisasi seringkali dikaitkan dengan penyusutan nilai aset. Hal tersebut memang keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Di sini kamu dapat lebih memahami hasil identifikasi mengenai keterkaitan amortisasi serta penyusutan nilai aset. Hasil identifikasi ini akan dijelaskan di bawah ini.

Baca juga: Cara Mengoptimalkan Investasi dengan Manajemen Investasi

Apabila kamu sudah memahami keterkaitannya, tentu akan lebih mudah untuk memahami serta menerapkannya. Berikut ini beberapa tiga kaitan antara amortisasi dan penysutan nilai aset :

Sesuai dengan pengertiannya, amortisasi merupakan nilai pengurangan atau penurunan nilai dari aktiva yang tidak berwujud. Sedangkan penyusutan berarti pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan serta perubahan harta berwujud. 

Keduanya memiliki kaitan dalam hal perubahan nilai aset yang dimiliki oleh perusahaan, karenanya kedua hal ini saling memiliki kaitan satu sama lain.

Amortisasi dan penyusutan juga berkaitan dalam hal fungsi. Apabila amortisasi memiliki fungsi untuk mencerminkan dari nilai penjualan kembali, maka penyusutan memiliki fungsi untuk mendapatkan serta memelihara penghasilan pada bulan harta yang bersangkutan. Sehingga, fungsi perubahan nilai pada aset tersebut memiliki fungsi untuk kedepannya.

Yang terakhir adalah kamu dapat melihat keterkaitan antara keduanya melalui beberapa tahapan pelaksanaan. Amortisasi dapat dilakukan pada bulan dilakukannya pengeluaran oleh perusahaan. Saat itu juga penyusutan pun dilakukan pada bulan yang sama dilakukannya pengeluaran. Karenanya keduanya saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain.

Itulah beberapa informasi yang perlu diketahui seputar contoh amortisasi serta kaitannya dengan penyusutan. Sekarang kamu sudah memahami sedikit banyak mengenai amortisasi, bukan? Pastikan sebelum melakukan amortisasi pinjaman, kamu dapat lebih memahami mengenai apa itu amortisasi.

Ajukan Pinjaman Sekarang dan Dapatkan Kemudahan Pinjaman Modal Usaha di Akseleran!

Dapatkan pinjaman dengan bunga kompetitif dan kemudahan proses pengajuan. Ajukan pinjaman untuk mengembangkan usahamu sekarang. Akseleran juga sudah terdaftar resmi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga proses transaksi yang kamu lakukan jadi lebih aman dan terjamin.

BLOG100

Untuk kamu yang tertarik mengenai pendanaan atau pinjaman langsung bisa juga menghubungi (021) 5091-6006 atau bisa via email [email protected].

4 Cara Menghitung Penyusutan dengan Lebih Mudah

Cara Menghitung Penyusutan

Penyusutan merupakan prosedur perhitungan nilai aset selama masa penggunaannya. Setiap aset akan mengalami penurunan nilai dalam jangka waktu tertentu. Maka dari itu, perusahaan harus mengetahui penyusutan aktiva supaya dapat berkembang secara seimbang. Nah, apakah Anda sudah tahu bagaimana langkah-langkah kalkulasinya?

Artikel kali ini akan membahas seputar empat cara menghitung penyusutan. Yuk, cari tahu lebih lanjut!

  • Metode Garis Lurus (Straight-Line Method)

Metode yang pertama ini paling sering digunakan dalam akuntansi demi menjaga beban penyusutan tetap konstan dan simpel sepanjang usia ekonomis aset. Ada dua rumus yang dapat dipakai dalam metode ini, yakni perhitungan dengan nilai residu dan perhitungan tanpa nilai residu.

  • Perhitungan menggunakan nilai residu

Cara perhitungan ini memakai rumus berikut:

(Harga Perolehan ― Nilai Residu) ÷ Umur Ekonomis = Penyusutan

Sebagai contoh, sebuah perusahaan membeli mobil operasional pada tanggal 2 Februari 2001 dengan harga Rp350 juta. Mobil itu diperkirakan mempunyai masa pakai 4 tahun dengan nilai residu Rp100 juta. Besar penyusutan per tahunnya, yakni

(Rp350.000.000 ― Rp100.000.000) ÷ 4 tahun = Rp62.500.000

  • Perhitungan tanpa nilai residu

Perhitungan berikutnya menggunakan rumus sebagai berikut:

Harga Perolehan ÷ Umur Ekonomis = Penyusutan

Misalnya, suatu perusahaan membeli mesin produksi senilai Rp300.000.000 pada tanggal 30 Maret 2004. Mesin tersebut diperkirakan tak akan mempunyai nilai residu pada masa akhir pemakaian dan bisa beroperasi sampai 6 tahun. Artinya, masa penyusutan mesin per tahun, yaitu

Rp300.000.000 ÷ 6 tahun = 50.000.000

  • Metode Saldo Menurun Ganda (Double Declining Balance Method)

Cara menghitung penyusutan aktiva yang kedua adalah metode saldo menurun ganda. Metode ini dipakai untuk mengkalkulasikan biaya penyusutan pada mesin produksi. Ini karena performa mesin umumnya bagus pada awalnya, tetapi cenderung menurun saat mendekati masa akhir pemakaian. Metode saldo menurun ganda menggunakan rumus perhitungan berikut:

(Harga Perolehan ÷ Umur Ekonomis) × 2 = Penyusutan

Contohnya, PT Sinar membeli mesin produksi seharga Rp250.000.000 pada tanggal 15 April 2006. Mesin tersebut diperkirakan tak mempunyai nilai residu pada masa akhir pemakaian dan bisa beroperasi selama 8 tahun. Beban penyusutan per tahun dari mesin itu, yakni

  • Penyusutan Akhir Tahun Pertama = (Rp250.000.000 ÷ 8 tahun) × 2 = Rp62.500.000
  • Penyusutan Akhir Tahun Kedua = (Rp187.500.000 ÷ 8 tahun) × 2 = Rp46.875.000
  • dan seterusnya.
  • Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of Years’ Digits Method)

Sama halnya dengan metode saldo menurun, metode ketiga ini biasa dipakai sebagai cara menghitung penyusutan pada mesin produksi. Namun, rumus yang digunakan sangat berbeda. Simak rumus berikut:

(Harga Perolehan ― Harga Residu) × [(n / (n + (n ― 1) + (n ― 2) + …)] = Penyusutan

Huruf “n” dalam rumus di atas menggambarkan usia ekonomis dari aktiva. Misalnya, umur ekonomis dari sebuah mesin produksi adalah 6 tahun. Artinya, angka di bawah pecahan mewakili total dari usia ekonomis mesin. Angka penyebut yang dipakai ialah 6 + 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 21.

Baca juga: Perbedaan Depresiasi dan Amortisasi

  • Metode Unit Produksi (Units of Production Method)

Dalam metode ini, nominal dari penyusutan yang dikeluarkan pada masa tertentu mempunyai nilai proporsional. Nilai tersebut seimbang dengan kapasitas produksi dibandingkan dengan perkiraan kapasitas produksi maksimal selama usia ekonomis aset. Metode unit produksi banyak dipakai oleh perusahaan manufaktur untuk menggambarkan sisa usia dari aktiva mereka. Rumusnya sebagai berikut:

(Harga Perolehan ― Harga Residu) × (Pemakaian ÷ Kapasitas Maksimal) = Penyusutan

Sebagai contoh, PT Makmur Maju membeli mobil keluaran terbaru untuk operasional pada 20 November 2015. Mobil tersebut memiliki harga Rp400.000.000 dan dibayar secara tunai. Empat tahun kemudian, perusahaan bermaksud menjual mobil dengan harga Rp100.000.000. Mobil yang dibeli dapat menempuh jarak sampai 100.000 km. Namun, mobil itu sekarang telah menempuh jarak 50.000 km selama pemakaian. Biaya penyusutannya, yaitu

(Rp400.000.000 ― 100.000.000) × (50.000 km ÷ 100.000) = Rp150.000.0000

Itulah uraian seputar cara menghitung penyusutan yang wajib Anda cermati. Dengan mengkalkulasikan penyusutan nilai aset, nilai total dari bisnis Anda dapat diketahui secara pasti. Perhitungan penyusutan pun bisa menghindarkan perusahaan dari masalah perpajakan. Selain itu, masa pakai aset dapat dimaksimalkan dan waktu pergantiannya mudah diketahui. Semoga bisnis Anda lancar!

Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang ingin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Sebagai platform pengembangan dana yang optimal dengan bunga hingga 21% per tahun kamu dapat memulainya hanya dengan Rp100 ribu saja.

BLOG100

Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana awalmu bersama Akseleran. Untuk syarat dan ketentuan dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected].